Sahabat atau Dia?
Namanya Rio, dia laki-laki berambut
jabrik dan bertubuh tinggi. Laki-laki yang selalu masuk peringkat 5 besar di
kelas dan peringkat 10 besar saat try out sekolah maupun kota. Laki-laki yang
mempunyai paras sempurna…..di mataku. Ya, dia laki-laki yang telah mencuri
perhatianku selama kurang lebih setahun ini.
Selama setahun ini aku berusaha
untuk menutupi perasaanku dan tidak menceritakannya pada siapapun. Tapi
akhirnya pertahananku goyah. Aku tidak bisa memendamnya sendirian, aku harus menceritakan
kepada seseorang yang kupercayai. Ibuku? Hmm mungkin beliau malah menasehatiku
untuk memikirkan hal seperti itu dan fokus pada pelajaran dan bla bla bla yang
tidak membantu sama sekali. Ah, aku menemukan satu nama. Karin, sahabatku sejak
kelas 7. Dia sudah sering menjadi tempat sampah dari segala cerita dan
keluhanku, dan ia selalu mendengarkan serta memberi saran yang membantu. Aku
bertekad akan menceritakannya besok pulang sekolah.
Keesokannya, aku sudah
mengatakannya kepada Karin kalau aku akan curhat, istilah para remaja masa kini
untuk menceritakan isi hati mereka. Karin menyanggupinya dan kami mengatur
tempat bertemu di dekat tempat parkir sepeda.
Selama pelajaran aku tidak
konsentrasi pada apa yang diterangkan oleh guru. Aku ingin segera bertemu
Karin. Saat bel pulang akan berbunyi, tiba-tiba seorang guru mengumumkan lewat
pengeras suara bahwa seluruh anggota ekskul PMR berkumpul. Semangatku luntur
seketika, Karin adalah ketua ekskul PMR dan itu berarti dia ikut berkumpul dan
artinya aku tidak bisa curhat ke Karin. Karin meminta maaf padaku saat pulang
sekolah dan berjanji bahwa besok dia pasti bisa mendengarkan ceritaku.
Aku berjalan menuju gerbang sekolah
dengan gontai, tapi sesosok orang yang berdiri di tempat parkir sepeda memaksa
langkahku untuk berhenti. Ah, itu Rio. Entah kenapa tubuhku sekejap menjadi
bersemangat saat menyebut namanya di pikiranku. Dia sedang mengeluarkan
sepedanya, tapi kemudian aku melihat seseorang lagi yang berdiri di belakangnya
sambil meneriakkan sesuatu kepada Rio. Karin? Sedang apa dia bersama Rio?
Hatiku berkecamuk, pikiranku melayang kemana-mana. Tapi tunggu, aku lupa
sesuatu. Aku lupa kalau Rio juga anggota ekskul PMR, dan Karin biasanya
bercerita padaku bagaimana Rio itu bergitu malas untuk mengikuti kegiatan
ekskul padahal dia adalah wakil ketua. Mungkin Karin sedang membujuknya untuk
berkumpul. Akhirnya kutinggalkan mereka berdua dan berjalan keluar gerbang.
Saat pulang sekolah esok harinya,
akhirnya aku dan Karin sudah duduk di bangku taman dekat tempat parkir sepeda,
tempat favoritku dan Karin.
“Siapa dulu nih yang cerita? Aku
ya?” ujar Karin. Aku mengangguk setuju. Sepertinya apa yang akan diceritakan
Karin lebih penting daripada ceritaku. Aku menunggu kata-kata selanjutnya
meluncur dari mulut Karin.
“Kamu tau temen sekelasku dan
sekaligus wakil ketua ku yang super duper nyebelin itu kan?” tanya Karin
padaku. Aku terhenyak, kenapa ia menceritakan orang yang sama?
Aku menjawab, “Iya tau lah, yang
selalu absen pas ekskul kan? Kenapa emang Rio?”
“Kemarin dia hampir aja kabur nggak
mau kumpul ekskul. Padahal udah kurang dua minggu lagi lomba dan anak-anak PMR
lainnya belum siap. Akhirnya aku terpaksa
marahin dia deh kemarin.” Kata Karin. Aku mengangguk. Aku juga liat kalian
kok kemarin, ujarku dalam hati.
“Nan, menurutmu Rio itu gimana?”
tanya Karin.
Hmm, Rio itu cuek tapi keren, suka
memakai jaket bertudung, pintar pelajaran apapun apalagi menggambar, tidak
pernah mengurus akun social media nya
tapi malah memilih baca komik setumpuk, suka makan soto di kantin, dan masih
banyak lagi. Tapi semua itu tidak kukatakan pada Karin
Aku menjawab sambil tertawa “Rio
itu suka bolos ekskul. Wah nggak cocok tuh jadi wakil ketua,” Karin memanyunkan
bibirnya.
“Serius ini, Nan. Soalnya aku suka
sama Rio…” Tawaku terhenti. Otakku memutar kembali perkataan Karin dengan
seksama.
Soalnya aku suka sama Rio… Karin suka Rio…
Kenapa? Apa karena mereka satu
kelas? Apa karena mereka sang ketua dan wakil ketua ekskul PMR? Apa karena
mereka selalu bertemu dan mengenal baik satu sama lain? Otakku buntu seketika. Tapi
aku berusaha mengalihkan emosiku
“Ciee.. Sang ketua jatuh cinta kepada
sang wakil ketua. Hayoo.. kenapa bisa suka sih? Bukannya dia selalu bikin kamu
sebel?” godaku. Karin tersenyum malu, aku menahan perih.
“Justru itu, aku jadi makin suka
sama dia. Apalagi ditambah sering SMS-an”
“Kamu
sering SMS-an dengan Rio?” tanyaku, berusaha memperjelas.
“Iya, lho
bukannya aku sering cerita juga? Apa kamu nggak paham?” jawab Karin. Aku
mengingat, yang Karin sering ceritakan adalah dia sering SMS-an dengan teman
sekelasnya..dan itu berarti Rio. Kenapa aku tidak peka?
“Terus
kemarin pas aku abis marahin dia gara-gara mau kabur, dia nembak aku,” kata
Karin lagi. Tunggu, Rio nembak Karin? KARIN DITEMBAK RIO?! Sekujur tubuhku mati
rasa seketika. Dunia seakan berhenti berputar. Aku masih tidak percaya dengan
semua yang kudengar
“Nan, kok
diem aja? Kaget ya? Kamu aja kaget gimana aku kemarin coba. Kemarin itu aku
speechless banget loh. Tapi aku belum jawab sih, soalnya aku mau tanya ke kamu
dulu”
Jelas saja
aku diam, jelas saja aku kaget. Aku sangat kaget, kamu tau? Baru saja aku mau
menceritakan kalau aku menyukai laki-laki yang menyukaimu itu. Tapi, sepertinya
sekarang malah akan membuatmu terluka. Jadi kusimpan saja ceritaku ini,
lanjutkan ceritamu, ceritakan dengan puas dan bahagia
“Lho?
Kenapa harus tanya aku? Aku kan nggak begitu kenal sama Rio. Kalo kalian
sama-sama suka yaudah terima aja. Toh dia kan juga baik, cocok sama tipemu”
kataku. Karin mengembangkan senyumnya, lalu memelukku.
“Makasiiih
Nanda. Kamu baik deh. Oiya, kamu masih punya kertas binder warna biru yang dulu
itu nggak? Aku pengen nulis sesuatu buat Rio” kukeluarkan binderku dan aku
pura-pura membuka pesan di handphone
ku, berusaha membebaskan diri.
“Rin, aku
pulang dulu ya. Lupa kalo ada janji sama mamaku. Bawa aja dulu binderku” ujarku
sambil beranjak dari duduk
“Lho, Nan.
Katanya mau cerita juga? Kamu kan belum cerita?” Karin bertanya, bingung.
Otakku berputar, mencari cerita yang masuk akal.
“Oh, aku
cuma mau cerita Si Cimut, hamsterku, kemarin lusa barusan ngelahirin lagi.
Anaknya ada lima. Jadi sekarang hamsterku ada delapan. Kamu mau nggak? Katanya
dulu kamu pengen hamster.” Karin berteriak bahwa ia mau, dan akhirnya aku
berhasil meninggalkan Karin.
Maaf Rin,
aku terlanjur bohong, ujarku dalam hati.
Jalanku
terhenti karena kepalaku menabrak seseorang. Sepertinya aku terlalu sibuk
memandang ke bawah
“Eh, Nanda.
Kamu tau Karin ada dimana?” aku mendongakkan kepala. Aku hafal benar suara itu.
Itu suara milik Rio. Ah, sekarang nama itu hanya akan membawa perih ketika
kusebutkan. Bukan lagi penyemangat.
“Dia ada di
bangku taman deket tempat parkir sepeda” jawabku tanpa basa-basi lalu
kutinggalkan Rio yang masih bingung mencari calon pacarnya. Tidak, lebih tepat
pacarnya, karena Karin akan menerimanya.
Aku
memikirkan lagi semua perkataan Karin. Berarti selama ini Karin sudah menyukai
Rio, sama halnya dengan aku. Hanya saja, aku tidak semujur Karin yang bisa
begitu dekat dengan Rio. Kenapa selama ini aku tidak tahu kalau sahabatku
menyukai orang yang sama denganku? Aku tidak peka. Ya, aku sahabat yang tidak
peka. Aku menghembuskan napas, berusaha membuang jauh rasa cemburu atau apapun
itu. Tapi buat apa aku cemburu? Dia toh bukan siapa-siapaku. Aku tidak berhak
cemburu. Aku senang Rio bisa mendapatkan Karin dan sebaliknya. Setidaknya mereka
sama-sama beruntung. Haha, miris. Mengalah demi sahabat itu baik kan?
“Nanda!
Nanda!” kudengar seseorang meneriakkan namaku, kucari asal suara tesebut.
Ternyata Karin. Kenapa dia mencariku? Bukannya ia sudah bersama Rio?
“Kenapa
Rin? Tadi kamu dicariin Rio lho” kataku. Karin mengembalikan binderku dalam
keadaan terbuka, dan aku tahu alasan mengapa ia rela mengejarku hanya demi
mengembalikan binder. Tidak, ia tidak hanya ingin mengembalikan binder. Sial,
aku menyadari kecerobohanku, dan akhirnya sekarang semua berantakan.
“Sebelumnya
maaf sudah lancang baca isinya. Kenapa Nan? Kenapa harus orang yang sama?”
tanya Karin pelan. Aku menundukkan kepala, berusaha untuk menahan emosiku.
Mengatakan yang sebenarnya? Itu hanya akan menyakitkan kedua belah pihak. Tapi
memendam terus toh percuma. Karin sudah mengetahui apa yang sebenarnya.
“Setahun
yang lalu, waktu pemilihan ketua dan wakil ketua ekskul PMR. Inget nggak waktu
kamu nyuruh aku dateng juga soalnya kamu grogi karena dicalonin jadi ketua. Itu
pertama kalinya aku tertarik sama Rio. Dan itu semua aku sembunyiin selama
setahun ini. Sampe tadi akhirnya kamu tau. Yaudah deh, lupain aja, aku udah
nggak suka lagi kok” entah kenapa sekarang aku merasa lebih lega. Karin menghampiriku dan memelukku
“Nah, kalo
udah jelas semuanya gini kan kita sama-sama lega. Maaf, aku nggak tau kalo kamu
ada rasa ke Rio. Maaf karena selama ini aku nggak peka. Aku sahabat yang nggak
peka.” aku tersenyum, kita sama-sama sabahat yang nggak peka, batinku. Tapi
entah kenapa memaafkan itu butuh proses Rin, sama seperti aku mengikhlaskan Rio
untukmu. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Perasaan kan tidak bisa dipaksakan
begitu saja.
“Tapi
tenang aja, sekarang aku udah move on. Cowok kan nggak cuma Rio, lagian Rio kan
punyanya sahabatku yang cantik ini, dan mungkin aku nanti bakal dapet yang
lebih baik,” kataku lalu mencubit pipi Karin. Kami berdua tertawa bersama.
Ah,
persahabatan itu benar-benar indah. Persahabatan sudah pasti mengandung cinta
dan kasih sayang, tapi cinta belum tentu bisa bersahabat.

