Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

SHORT STORY-2


Sahabat atau Dia?

Namanya Rio, dia laki-laki berambut jabrik dan bertubuh tinggi. Laki-laki yang selalu masuk peringkat 5 besar di kelas dan peringkat 10 besar saat try out sekolah maupun kota. Laki-laki yang mempunyai paras sempurna…..di mataku. Ya, dia laki-laki yang telah mencuri perhatianku selama kurang lebih setahun ini.
Selama setahun ini aku berusaha untuk menutupi perasaanku dan tidak menceritakannya pada siapapun. Tapi akhirnya pertahananku goyah. Aku tidak bisa memendamnya sendirian, aku harus menceritakan kepada seseorang yang kupercayai. Ibuku? Hmm mungkin beliau malah menasehatiku untuk memikirkan hal seperti itu dan fokus pada pelajaran dan bla bla bla yang tidak membantu sama sekali. Ah, aku menemukan satu nama. Karin, sahabatku sejak kelas 7. Dia sudah sering menjadi tempat sampah dari segala cerita dan keluhanku, dan ia selalu mendengarkan serta memberi saran yang membantu. Aku bertekad akan menceritakannya besok pulang sekolah.
Keesokannya, aku sudah mengatakannya kepada Karin kalau aku akan curhat, istilah para remaja masa kini untuk menceritakan isi hati mereka. Karin menyanggupinya dan kami mengatur tempat bertemu di dekat tempat parkir sepeda.
Selama pelajaran aku tidak konsentrasi pada apa yang diterangkan oleh guru. Aku ingin segera bertemu Karin. Saat bel pulang akan berbunyi, tiba-tiba seorang guru mengumumkan lewat pengeras suara bahwa seluruh anggota ekskul PMR berkumpul. Semangatku luntur seketika, Karin adalah ketua ekskul PMR dan itu berarti dia ikut berkumpul dan artinya aku tidak bisa curhat ke Karin. Karin meminta maaf padaku saat pulang sekolah dan berjanji bahwa besok dia pasti bisa mendengarkan ceritaku.
Aku berjalan menuju gerbang sekolah dengan gontai, tapi sesosok orang yang berdiri di tempat parkir sepeda memaksa langkahku untuk berhenti. Ah, itu Rio. Entah kenapa tubuhku sekejap menjadi bersemangat saat menyebut namanya di pikiranku. Dia sedang mengeluarkan sepedanya, tapi kemudian aku melihat seseorang lagi yang berdiri di belakangnya sambil meneriakkan sesuatu kepada Rio. Karin? Sedang apa dia bersama Rio? Hatiku berkecamuk, pikiranku melayang kemana-mana. Tapi tunggu, aku lupa sesuatu. Aku lupa kalau Rio juga anggota ekskul PMR, dan Karin biasanya bercerita padaku bagaimana Rio itu bergitu malas untuk mengikuti kegiatan ekskul padahal dia adalah wakil ketua. Mungkin Karin sedang membujuknya untuk berkumpul. Akhirnya kutinggalkan mereka berdua dan berjalan keluar gerbang.
Saat pulang sekolah esok harinya, akhirnya aku dan Karin sudah duduk di bangku taman dekat tempat parkir sepeda, tempat favoritku dan Karin.
“Siapa dulu nih yang cerita? Aku ya?” ujar Karin. Aku mengangguk setuju. Sepertinya apa yang akan diceritakan Karin lebih penting daripada ceritaku. Aku menunggu kata-kata selanjutnya meluncur dari mulut Karin.
“Kamu tau temen sekelasku dan sekaligus wakil ketua ku yang super duper nyebelin itu kan?” tanya Karin padaku. Aku terhenyak, kenapa ia menceritakan orang yang sama?
Aku menjawab, “Iya tau lah, yang selalu absen pas ekskul kan? Kenapa emang Rio?”
“Kemarin dia hampir aja kabur nggak mau kumpul ekskul. Padahal udah kurang dua minggu lagi lomba dan anak-anak PMR lainnya belum siap. Akhirnya aku terpaksa  marahin dia deh kemarin.” Kata Karin. Aku mengangguk. Aku juga liat kalian kok kemarin, ujarku dalam hati.
“Nan, menurutmu Rio itu gimana?” tanya Karin.
Hmm, Rio itu cuek tapi keren, suka memakai jaket bertudung, pintar pelajaran apapun apalagi menggambar, tidak pernah mengurus akun social media nya tapi malah memilih baca komik setumpuk, suka makan soto di kantin, dan masih banyak lagi. Tapi semua itu tidak kukatakan pada Karin
Aku menjawab sambil tertawa “Rio itu suka bolos ekskul. Wah nggak cocok tuh jadi wakil ketua,” Karin memanyunkan bibirnya.
“Serius ini, Nan. Soalnya aku suka sama Rio…” Tawaku terhenti. Otakku memutar kembali perkataan Karin dengan seksama.
Soalnya aku suka sama Rio… Karin suka Rio…
Kenapa? Apa karena mereka satu kelas? Apa karena mereka sang ketua dan wakil ketua ekskul PMR? Apa karena mereka selalu bertemu dan mengenal baik satu sama lain? Otakku buntu seketika. Tapi aku berusaha mengalihkan emosiku
“Ciee.. Sang ketua jatuh cinta kepada sang wakil ketua. Hayoo.. kenapa bisa suka sih? Bukannya dia selalu bikin kamu sebel?” godaku. Karin tersenyum malu, aku menahan perih.
“Justru itu, aku jadi makin suka sama dia. Apalagi ditambah sering SMS-an”
“Kamu sering SMS-an dengan Rio?” tanyaku, berusaha memperjelas.
“Iya, lho bukannya aku sering cerita juga? Apa kamu nggak paham?” jawab Karin. Aku mengingat, yang Karin sering ceritakan adalah dia sering SMS-an dengan teman sekelasnya..dan itu berarti Rio. Kenapa aku tidak peka?
“Terus kemarin pas aku abis marahin dia gara-gara mau kabur, dia nembak aku,” kata Karin lagi. Tunggu, Rio nembak Karin? KARIN DITEMBAK RIO?! Sekujur tubuhku mati rasa seketika. Dunia seakan berhenti berputar. Aku masih tidak percaya dengan semua yang kudengar
“Nan, kok diem aja? Kaget ya? Kamu aja kaget gimana aku kemarin coba. Kemarin itu aku speechless banget loh. Tapi aku belum jawab sih, soalnya aku mau tanya ke kamu dulu”
Jelas saja aku diam, jelas saja aku kaget. Aku sangat kaget, kamu tau? Baru saja aku mau menceritakan kalau aku menyukai laki-laki yang menyukaimu itu. Tapi, sepertinya sekarang malah akan membuatmu terluka. Jadi kusimpan saja ceritaku ini, lanjutkan ceritamu, ceritakan dengan puas dan bahagia
“Lho? Kenapa harus tanya aku? Aku kan nggak begitu kenal sama Rio. Kalo kalian sama-sama suka yaudah terima aja. Toh dia kan juga baik, cocok sama tipemu” kataku. Karin mengembangkan senyumnya, lalu memelukku.
“Makasiiih Nanda. Kamu baik deh. Oiya, kamu masih punya kertas binder warna biru yang dulu itu nggak? Aku pengen nulis sesuatu buat Rio” kukeluarkan binderku dan aku pura-pura membuka pesan di handphone ku, berusaha membebaskan diri.
“Rin, aku pulang dulu ya. Lupa kalo ada janji sama mamaku. Bawa aja dulu binderku” ujarku sambil beranjak dari duduk
“Lho, Nan. Katanya mau cerita juga? Kamu kan belum cerita?” Karin bertanya, bingung. Otakku berputar, mencari cerita yang masuk akal.
“Oh, aku cuma mau cerita Si Cimut, hamsterku, kemarin lusa barusan ngelahirin lagi. Anaknya ada lima. Jadi sekarang hamsterku ada delapan. Kamu mau nggak? Katanya dulu kamu pengen hamster.” Karin berteriak bahwa ia mau, dan akhirnya aku berhasil meninggalkan Karin.
Maaf Rin, aku terlanjur bohong, ujarku dalam hati.
Jalanku terhenti karena kepalaku menabrak seseorang. Sepertinya aku terlalu sibuk memandang ke bawah
“Eh, Nanda. Kamu tau Karin ada dimana?” aku mendongakkan kepala. Aku hafal benar suara itu. Itu suara milik Rio. Ah, sekarang nama itu hanya akan membawa perih ketika kusebutkan. Bukan lagi penyemangat.
“Dia ada di bangku taman deket tempat parkir sepeda” jawabku tanpa basa-basi lalu kutinggalkan Rio yang masih bingung mencari calon pacarnya. Tidak, lebih tepat pacarnya, karena Karin akan menerimanya.
Aku memikirkan lagi semua perkataan Karin. Berarti selama ini Karin sudah menyukai Rio, sama halnya dengan aku. Hanya saja, aku tidak semujur Karin yang bisa begitu dekat dengan Rio. Kenapa selama ini aku tidak tahu kalau sahabatku menyukai orang yang sama denganku? Aku tidak peka. Ya, aku sahabat yang tidak peka. Aku menghembuskan napas, berusaha membuang jauh rasa cemburu atau apapun itu. Tapi buat apa aku cemburu? Dia toh bukan siapa-siapaku. Aku tidak berhak cemburu. Aku senang Rio bisa mendapatkan Karin dan sebaliknya. Setidaknya mereka sama-sama beruntung. Haha, miris. Mengalah demi sahabat itu baik kan?
“Nanda! Nanda!” kudengar seseorang meneriakkan namaku, kucari asal suara tesebut. Ternyata Karin. Kenapa dia mencariku? Bukannya ia sudah bersama Rio?
“Kenapa Rin? Tadi kamu dicariin Rio lho” kataku. Karin mengembalikan binderku dalam keadaan terbuka, dan aku tahu alasan mengapa ia rela mengejarku hanya demi mengembalikan binder. Tidak, ia tidak hanya ingin mengembalikan binder. Sial, aku menyadari kecerobohanku, dan akhirnya sekarang semua berantakan.
“Sebelumnya maaf sudah lancang baca isinya. Kenapa Nan? Kenapa harus orang yang sama?” tanya Karin pelan. Aku menundukkan kepala, berusaha untuk menahan emosiku. Mengatakan yang sebenarnya? Itu hanya akan menyakitkan kedua belah pihak. Tapi memendam terus toh percuma. Karin sudah mengetahui apa yang sebenarnya.
“Setahun yang lalu, waktu pemilihan ketua dan wakil ketua ekskul PMR. Inget nggak waktu kamu nyuruh aku dateng juga soalnya kamu grogi karena dicalonin jadi ketua. Itu pertama kalinya aku tertarik sama Rio. Dan itu semua aku sembunyiin selama setahun ini. Sampe tadi akhirnya kamu tau. Yaudah deh, lupain aja, aku udah nggak suka lagi kok” entah kenapa sekarang aku merasa lebih lega.  Karin menghampiriku dan memelukku
“Nah, kalo udah jelas semuanya gini kan kita sama-sama lega. Maaf, aku nggak tau kalo kamu ada rasa ke Rio. Maaf karena selama ini aku nggak peka. Aku sahabat yang nggak peka.” aku tersenyum, kita sama-sama sabahat yang nggak peka, batinku. Tapi entah kenapa memaafkan itu butuh proses Rin, sama seperti aku mengikhlaskan Rio untukmu. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Perasaan kan tidak bisa dipaksakan begitu saja.
“Tapi tenang aja, sekarang aku udah move on. Cowok kan nggak cuma Rio, lagian Rio kan punyanya sahabatku yang cantik ini, dan mungkin aku nanti bakal dapet yang lebih baik,” kataku lalu mencubit pipi Karin. Kami berdua tertawa bersama.
Ah, persahabatan itu benar-benar indah. Persahabatan sudah pasti mengandung cinta dan kasih sayang, tapi cinta belum tentu bisa bersahabat.